MARAH
MARAH
Oleh; Ibrahim Manisi
MENDENGAR kata marah, perasaan seseorang langsung terkoneksi dengan rasa cemas, was-was bahkan rasa takut terhadap akibat apa yang akan terjadi apabila bertemu dengan orang yang marah.
Lantas apa sesungguhnya marah itu? Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI); marah adalah merasa (perasaan) sangat tidak senang dan panas (karena dihina, diperlakukan kurang baik, dsb).
Sementara menurut pandangan psikologi terdapat beberapa rumusan tentang marah. Di antaranya, marah adalah perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh dalam dada.
Dengan demikian marah itu merupakan reaksi dari suatu kondisi dan cenderung menimbulkan tindakan-tindakan pelanggaran. Marah merupakan titik didih hati dan pergolakan jiwa untuk melakukan tindakan pembalasan. Oleh karena itu, apabila seseorang tidak mampu mengendalikan amarahnya, maka kemarahan tersebut akan berujung pada tindakan pelanggaran yang merugikan orang lain dan diri sendiri.
Menurut Muhammad Usman Najati, marah adalah emosi alamiah yang akan timbul manakala pemuasan salah satu motif dasar mengalami kendala. Apabila ada kendala yang menghalangi manusia atau pun hewan untuk mencapai tujuan tertentu dalam upaya memuaskan salah satu motif dasarnya, maka ia akan marah, berontak dan melawan kendala tersebut.
Dalam Islam, hakikat marah ada dua macam. Pertama, marah yang terpuji; yaitu marah yang semata-mata karena Allah SWT dan Rasul-Nya serta karena membela agama. Selain itu, juga marah yang dilakukan untuk membela diri, kehormatan dan harta serta membela hak-hak umum dan orang yang dizalim atau tertindas. Seseorang yang marah karena melihat ada pelanggaran terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya atau melihat suatu perbuatan maksiat.
Jika membahas persoalan marah, maka kita kita akan menyinggung tujuan Allah SWT menciptakan manusia. Dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 30, Allah SWT berfirman yang artinya; "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi.........".
Bahwa yang dimaksudkan Khalifah oleh Allah adalah manusia - Adam Alaihi Salam. Agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai Khalifah di bumi, maka Allah menciptakan manusia dari tiga unsur; (1) unsur Ruh. (2) unsur Jasad. (3) unsur Akal. Allah SWT telah menentukan bahwa Dia menjadikan jasad untuk melayani Ruh selama hidup di dunia dengan baik, maka Allah menciptakan padanya dua kekuatan.
Pertama; Kekuatan syahwat. Tugas syahwat adalah mendatangkan setiap apa yang berguna bagi jasad dan memberi makanan padanya. Kedua; Kekuatan Amarah. Tugasnya adalah menolak setiap apa yang membahayakan jasad dan menghancurkannya. Untuk melayani kedua Kekuatan dasar manusia tersebut, Allah juga menciptakan anggota tubuh dan bagian-bagian lainnya.
Untuk menjaga keseimbangan di antara Syahwat dan Amarah, Allah menciptakan Aqal untuk menjadi penasehat dan pemberi arah bagi Ruh. Dan bila kedua kekuatan, syahwat dan amarah condong dari batas kewajaran, maka Aqal akan menasehati dan mengarahkan Ruh pada pentingnya mengambil posisi yang jelas dan tegas dengan kekuatan yang condong tersebut, agar keseimbangan dan kesempurnaan kembali kepada jasad.
Kedua, marah yang tercelah; yaitu marah yang timbul karena dorongan nafsu ataukah karena adanya kepentingan pribadi yang terhalangi atau marah sebagai tindakan untuk balas dendam demi diri sendiri.
Terkait marah balas dendam, Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda; "Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah". Karena itu, marah paling berbahaya adalah yang dipicu rasa dengki.
Dengki merupakan suatu penyakit hati yang harus dihindari, karena dengki itu merujuk pada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat rasa cemburu atau iri hati yang sangat besar. Dengki amat dekat dan berhubungan dengan unsur jahat, benci, fitnah dan dendam yang terpendam.
Menurut Imam Al Gazali, dengki (Hasad) adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Orang dengki selalu merasa dirinya paling hebat karena itu dia tidak ingin kalah tetapi dia ingin selalu dianggap dan selalu membanggakan dan membesar-besarkan dirinya.
Rasulullah SAW bersabda; "Jangan kalian saling mendengki, saling memfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya, tidak mempermalukakannya, tidak mendustakannya, dan tidak pulau melecehkannya. Taqwa adalah tempatnya di sini, seraya Nabi SAW menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan karena ia melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas sesama muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Dalam Al Qur'an surah Al Falaq ayat 1,2 dan ayat 5 yang artinya; Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki".
Dari paparan tentang marah di atas, kita mmdapat memahami bahwa marah itu adalah suatu potensi dasar (kekuatan) bawaan yang diberikan Allah SWT. Namun tidak berarti tidak boleh marah, tetapi marahlah dengan terpuji dan dapat dipertanggung jawabkan. Marahlahn dengan bijaksana sehingga kita terhindar dari akibat buruk yang ditimbulkan sifat marah yang tidak terpuji. Wallahu A'lam ....
Oleh; Ibrahim Manisi
MENDENGAR kata marah, perasaan seseorang langsung terkoneksi dengan rasa cemas, was-was bahkan rasa takut terhadap akibat apa yang akan terjadi apabila bertemu dengan orang yang marah.
Lantas apa sesungguhnya marah itu? Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI); marah adalah merasa (perasaan) sangat tidak senang dan panas (karena dihina, diperlakukan kurang baik, dsb).
Sementara menurut pandangan psikologi terdapat beberapa rumusan tentang marah. Di antaranya, marah adalah perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh dalam dada.
Dengan demikian marah itu merupakan reaksi dari suatu kondisi dan cenderung menimbulkan tindakan-tindakan pelanggaran. Marah merupakan titik didih hati dan pergolakan jiwa untuk melakukan tindakan pembalasan. Oleh karena itu, apabila seseorang tidak mampu mengendalikan amarahnya, maka kemarahan tersebut akan berujung pada tindakan pelanggaran yang merugikan orang lain dan diri sendiri.
Menurut Muhammad Usman Najati, marah adalah emosi alamiah yang akan timbul manakala pemuasan salah satu motif dasar mengalami kendala. Apabila ada kendala yang menghalangi manusia atau pun hewan untuk mencapai tujuan tertentu dalam upaya memuaskan salah satu motif dasarnya, maka ia akan marah, berontak dan melawan kendala tersebut.
Dalam Islam, hakikat marah ada dua macam. Pertama, marah yang terpuji; yaitu marah yang semata-mata karena Allah SWT dan Rasul-Nya serta karena membela agama. Selain itu, juga marah yang dilakukan untuk membela diri, kehormatan dan harta serta membela hak-hak umum dan orang yang dizalim atau tertindas. Seseorang yang marah karena melihat ada pelanggaran terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya atau melihat suatu perbuatan maksiat.
Jika membahas persoalan marah, maka kita kita akan menyinggung tujuan Allah SWT menciptakan manusia. Dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 30, Allah SWT berfirman yang artinya; "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi.........".
Bahwa yang dimaksudkan Khalifah oleh Allah adalah manusia - Adam Alaihi Salam. Agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai Khalifah di bumi, maka Allah menciptakan manusia dari tiga unsur; (1) unsur Ruh. (2) unsur Jasad. (3) unsur Akal. Allah SWT telah menentukan bahwa Dia menjadikan jasad untuk melayani Ruh selama hidup di dunia dengan baik, maka Allah menciptakan padanya dua kekuatan.
Pertama; Kekuatan syahwat. Tugas syahwat adalah mendatangkan setiap apa yang berguna bagi jasad dan memberi makanan padanya. Kedua; Kekuatan Amarah. Tugasnya adalah menolak setiap apa yang membahayakan jasad dan menghancurkannya. Untuk melayani kedua Kekuatan dasar manusia tersebut, Allah juga menciptakan anggota tubuh dan bagian-bagian lainnya.
Untuk menjaga keseimbangan di antara Syahwat dan Amarah, Allah menciptakan Aqal untuk menjadi penasehat dan pemberi arah bagi Ruh. Dan bila kedua kekuatan, syahwat dan amarah condong dari batas kewajaran, maka Aqal akan menasehati dan mengarahkan Ruh pada pentingnya mengambil posisi yang jelas dan tegas dengan kekuatan yang condong tersebut, agar keseimbangan dan kesempurnaan kembali kepada jasad.
Kedua, marah yang tercelah; yaitu marah yang timbul karena dorongan nafsu ataukah karena adanya kepentingan pribadi yang terhalangi atau marah sebagai tindakan untuk balas dendam demi diri sendiri.
Terkait marah balas dendam, Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda; "Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah". Karena itu, marah paling berbahaya adalah yang dipicu rasa dengki.
Dengki merupakan suatu penyakit hati yang harus dihindari, karena dengki itu merujuk pada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat rasa cemburu atau iri hati yang sangat besar. Dengki amat dekat dan berhubungan dengan unsur jahat, benci, fitnah dan dendam yang terpendam.
Menurut Imam Al Gazali, dengki (Hasad) adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Orang dengki selalu merasa dirinya paling hebat karena itu dia tidak ingin kalah tetapi dia ingin selalu dianggap dan selalu membanggakan dan membesar-besarkan dirinya.
Rasulullah SAW bersabda; "Jangan kalian saling mendengki, saling memfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya, tidak mempermalukakannya, tidak mendustakannya, dan tidak pulau melecehkannya. Taqwa adalah tempatnya di sini, seraya Nabi SAW menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan karena ia melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas sesama muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Dalam Al Qur'an surah Al Falaq ayat 1,2 dan ayat 5 yang artinya; Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki".
Dari paparan tentang marah di atas, kita mmdapat memahami bahwa marah itu adalah suatu potensi dasar (kekuatan) bawaan yang diberikan Allah SWT. Namun tidak berarti tidak boleh marah, tetapi marahlah dengan terpuji dan dapat dipertanggung jawabkan. Marahlahn dengan bijaksana sehingga kita terhindar dari akibat buruk yang ditimbulkan sifat marah yang tidak terpuji. Wallahu A'lam ....
Komentar
Posting Komentar